CompanionRank
Home / Blog / Lansia dan AI pendamping (2026)
Riset

Yang Diinginkan Lansia dari AI Pendamping: Riset 2026

Hampir semua asumsi desain di pasar aplikasi pendamping menuju arah yang sama: buat terasa semirip mungkin dengan manusia. Sebuah studi terhadap 140 orang berusia 60 sampai 89 tahun, yang disorot kampusnya pada 2 September 2026, justru menemukan bahwa makin mirip manusia sebuah chatbot terasa, makin rendah niat mereka memakainya. Studi 2026 lain, yang memakai wawancara alih-alih skala, menjelaskan kenapa.

Terbit: 14 September 2026Penulis: Tim Redaksi CompanionRankWaktu baca: ~7 menit
Yang Diinginkan Lansia dari AI Pendamping: Riset 2026
Bukan saran klinis atau medis. Artikel ini merangkum riset akademis yang sudah terbit sebagai informasi umum. Ukuran efek dalam studi perilaku adalah rata-rata satu sampel, bukan ramalan tentang satu orang tertentu, dan kedua studi di sini tidak menguji aplikasi pendamping komersial. Aplikasi yang ditampilkan mungkin memuat konten dewasa yang ditujukan untuk orang dewasa (18+).
Ringkasnya: Studi di Innovation in Aging (DOI 10.1093/geroni/igag073) meminta 140 orang berusia 60–89 tahun memakai chatbot sosial yang dibuat khusus, lalu memodelkan apa yang memprediksi niat mereka memakainya lagi. Keaslian dan kedekatan interaksi sama-sama prediktor positif yang kuat (keduanya p < .001). Antropomorfisme justru negatif (B = −0,34; p = .040) — makin mirip manusia, makin rendah niat memakainya. Faktor sosio-relasional menambah 27% varians yang dijelaskan di atas model penerimaan teknologi standar. Studi kualitatif terpisah di The Gerontologist (5 Agustus 2026) menemukan lansia menggambarkan chatbot dalam lima peran sekaligus — teman, guru, konsultan, asisten, penghibur — bukan sebagai pengganti manusia.

Studi yang membalik satu asumsi desain

Peneliti di Singapore University of Technology and Design merekrut 140 lansia yang tinggal di komunitas — rata-rata usia 72,7 tahun, rentang 60 sampai 89 — dan memberi masing-masing sesi 20 menit dengan Ami Chat, chatbot sosial berbasis suara yang tim itu bangun khusus untuk kelompok ini. Peserta mengisi pengukuran awal lebih dulu, termasuk Montreal Cognitive Assessment, lalu menilai pengalamannya sesudah sesi. Sesi berjalan dalam bahasa Inggris (77 peserta) atau Mandarin (63).

Analisis berangkat dari Senior Technology Acceptance Model, kerangka baku untuk memprediksi apakah lansia akan mengadopsi sebuah teknologi, lalu menambahkan tiga ukuran dari riset relasi: antropomorfisme (seberapa mirip manusia sistemnya terasa), keaslian (seberapa tulus dan responsif rasanya), dan intensitas interaksi sosial AI atau AISI (seberapa mirip percakapan itu dengan ngobrol bareng teman).

Menambahkan ketiganya hampir melipatgandakan daya jelas model. Faktor penerimaan teknologi saja mencapai R² = .32. Model penuh mencapai R² = .59. Artinya, untuk kelompok usia ini, bagaimana percakapan itu terasa secara sosial kira-kira sama pentingnya dengan seluruh faktor kegunaan dan rasa percaya diri digabung.

Apa yang memprediksi adopsi — dan apa yang tidak

Arah tiap prediktor adalah bagian yang paling bisa dipakai.

PrediktorArahKoefisien (B)p
Intensitas interaksi sosial AI (AISI)Positif0,99< .001
KeaslianPositif0,68< .001
Keyakinan kendali (merasa mampu memakainya)Positif0,54.001
AntropomorfismeNegatif−0,34.040
Kesehatan menurut penilaian sendiriNegatif−0,32.008
Keyakinan sikapTidak signifikan−0,06—
Kecemasan terhadap teknologi (gerontechnology anxiety)Tidak signifikan0,04—

Dua hasil layak dicermati. Pertama, tanda negatif pada antropomorfisme, yang baru muncul setelah kedekatan interaksi diperhitungkan — para penulis menyebut bahwa antropomorfisme memprediksi secara negatif niat memakai chatbot sosial itu setelah AISI diperhitungkan. Penjelasan yang mereka ajukan adalah ketidaknyamanan soal privasi dan reaksi uncanny valley. Kedua, koefisien negatif pada kesehatan: peserta dengan kondisi kesehatan lebih buruk justru melaporkan niat memakai yang lebih tinggi, cocok dengan gambaran chatbot mengisi celah, bukan sekadar jadi barang baru.

Kecemasan terhadap teknologi — faktor yang mendominasi banyak panduan desain untuk lansia — tidak memprediksi apa pun di sini begitu ukuran sosial dimasukkan.

Studi kedua: lima peran, bukan satu

Terbit di The Gerontologist pada 5 Agustus 2026, studi kualitatif oleh Yijin Wu, Fengbo Jiao, Haokun Wang, dan Quan Zhang menempuh jalur berbeda: wawancara semi-terstruktur dengan lansia yang sudah rutin memakai chatbot AI, lalu dianalisis secara tematik.

Pesertanya tidak menggambarkan satu jenis hubungan. Mereka menggambarkan chatbot menempati lima peran sekaligus: teman yang terasa manusiawi, guru yang mendukung, konsultan yang paham bidang tertentu, asisten praktis, dan penyedia hiburan. Manfaat yang dilaporkan membentang dari kesejahteraan emosional, keterlibatan kognitif, sampai rasa mampu menjalani hari sendiri — penulisnya membingkai semuanya sebagai dukungan untuk aging in place, bukan pengganti teman.

Disandingkan dengan hasil Singapura, keduanya nyambung. Yang tampaknya dihargai pengguna lansia adalah lawan bicara yang cakap dan responsif serta jujur soal dirinya — bukan manusia tiruan. Pendamping yang menghabiskan tenaga mengaku punya perasaan dan masa lalu sedang berinvestasi tepat di satu dimensi yang skornya negatif.

Kenapa "kurang manusiawi" bisa berarti "lebih dipakai"

Ini bukan temuan yang berdiri sendiri. Sebuah pracetak 2026 yang memanipulasi perilaku chatbot secara langsung menemukan bahwa perilaku pendamping seperti pembenaran terus-menerus justru menurunkan kepercayaan, bukan menaikkannya, dengan peserta yang lebih tua mengalami penurunan persepsi kemiripan manusia lebih besar ketimbang yang muda. Studi Singapura sampai pada kesimpulan serupa lewat metode dan populasi yang sama sekali berbeda.

Data survei memberi konteks. Laporan AI Trends dari AARP (Januari 2026) menemukan 80% orang berusia 50 tahun ke atas pernah memakai AI dalam bentuk apa pun, tetapi minat memakai AI untuk dukungan emosional hanya 38% — berbanding 74% untuk penerjemahan. Sebanyak 68% mengaku khawatir AI bisa mengurangi interaksi manusia yang bermakna. Ini bukan kelompok yang menolak teknologi. Ini kelompok yang mau manfaatnya tanpa pura-puranya.

Apa yang berubah saat memilih aplikasi

Kalau kamu memilih aplikasi pendamping untuk dirimu di usia lanjut, atau membantu orang tua memilih, riset ini menunjuk daftar periksa yang spesifik dan agak tidak keren:

Batasan yang perlu disebut

Studi Singapura bersifat lintas-bagian dan bersandar pada satu sesi 20 menit dalam situasi terawasi, jadi yang diukur adalah kesan pertama, bukan pemakaian berkelanjutan, dan ia tidak bisa membuktikan sebab-akibat. Sampelnya condong ke perempuan (110 dari 140) dan didominasi warga Singapura keturunan Tionghoa, sementara orang dengan gangguan klinis dikecualikan. Chatbotnya dirancang khusus agar ramah lansia, jadi temuannya belum tentu berlaku untuk aplikasi pendamping komersial dengan tujuan desain yang jauh berbeda. Penulisnya juga menandai kemungkinan bias keinginan terlihat baik, karena ada peneliti yang hadir saat penilaian.

Studi The Gerontologist memang kualitatif: ia memetakan bagaimana orang menggambarkan pemakaiannya, bukan seberapa umum sebuah pola. Keduanya tidak mengikuti peserta selama berbulan-bulan, padahal itulah rentang waktu nyata sebuah hubungan dengan pendamping — celah yang sama yang membatasi sebagian besar literatur kesejahteraan.

Yang kami pantau

Pertanyaan yang sering muncul

Apa sebenarnya temuan studi Innovation in Aging 2026 itu?

Peneliti di Singapore University of Technology and Design meminta 140 lansia yang tinggal di komunitas, berusia 60 sampai 89 tahun, memakai chatbot sosial buatan khusus selama 20 menit, lalu memodelkan apa yang memprediksi niat mereka memakainya. Keaslian (B = 0,68) dan intensitas interaksi sosial AI (B = 0,99) adalah prediktor positif yang kuat, keduanya pada p di bawah .001. Antropomorfisme justru prediktor negatif (B = -0,34; p = .040): makin mirip manusia chatbot itu terasa, makin rendah niat memakainya. Menambahkan ukuran sosio-relasional ini ke model penerimaan teknologi standar menaikkan varians yang dijelaskan dari R2 = .32 menjadi R2 = .59.

Kenapa lansia lebih suka chatbot yang terasa kurang manusiawi?

Penulisnya mengajukan dua penjelasan dan tidak mengklaim sudah memilih salah satunya. Yang pertama adalah ketidaknyamanan soal privasi: sistem yang menampilkan diri sebagai manusia memancing pengungkapan lebih banyak daripada yang nyaman bagi penggunanya. Yang kedua adalah reaksi uncanny valley, ketika tampilan yang nyaris manusiawi terasa mengganggu alih-alih hangat. Yang menarik, efek negatif ini baru muncul setelah kedekatan interaksi diperhitungkan, yang menyiratkan bahwa yang diinginkan pengguna adalah lawan bicara yang baik, bukan tiruan manusia yang meyakinkan.

Apakah lansia benar-benar memakai AI pendamping?

Adopsi AI secara umum tinggi di kelompok usia ini, tetapi minat pada penggunaan emosional jauh lebih rendah. Laporan AI Trends dari AARP, terbit Januari 2026, menemukan 80% orang berusia 50 tahun ke atas pernah memakai AI dalam bentuk apa pun, sementara minat memakai AI untuk dukungan emosional berada di 38%, dibandingkan 74% untuk penerjemahan. Sebanyak 68% mengatakan mereka khawatir AI bisa mengurangi interaksi manusia yang bermakna.

Peran apa saja yang diberikan pengguna lansia kepada chatbot AI?

Sebuah studi kualitatif yang terbit di The Gerontologist pada 5 Agustus 2026 mewawancarai lansia yang rutin memakai chatbot AI dan menemukan mereka menggambarkan lima peran sekaligus: teman yang terasa manusiawi, guru yang mendukung, konsultan yang paham bidang tertentu, asisten praktis, dan penyedia hiburan. Peserta mengaitkan interaksi itu dengan kesejahteraan emosional, keterlibatan kognitif, dan rasa mampu yang lebih kuat dalam menjalani hari.

Apa yang perlu dicek sebelum merekomendasikan aplikasi pendamping ke orang tua?

Utamakan responsivitas, antarmuka suara, dan pengaturan awal yang lugas ketimbang kedalaman persona, karena keyakinan kendali adalah prediktor adopsi yang signifikan sedangkan kecemasan teknologi tidak. Periksa seberapa sering karakternya mengaku punya perasaan, ingatan, atau tubuh, sebab itulah dimensi yang skornya negatif. Pastikan ketentuan privasinya sebelum mendaftar, dan jangan perlakukan klaim pemasaran "terasa seperti manusia sungguhan" sebagai tanda kualitas untuk kelompok usia ini.

Apa yang perlu dicek sebelum merekomendasikan aplikasi pendamping ke orang tua?

Utamakan responsivitas, antarmuka suara, dan pengaturan awal yang lugas ketimbang kedalaman persona, karena keyakinan kendali adalah prediktor adopsi yang signifikan sedangkan kecemasan teknologi tidak. Periksa seberapa sering karakternya mengaku punya perasaan, ingatan, atau tubuh, sebab itulah dimensi yang skornya negatif. Pastikan ketentuan privasinya sebelum mendaftar, dan jangan perlakukan klaim pemasaran \"terasa seperti manusia sungguhan\" sebagai tanda kualitas untuk kelompok usia ini.